Dewasa Muda Melunasi Kartu Kredit Lebih Lama
Penulis : Felicitas Harmandini |
Minggu, 20 Januari 2013 | 13:39 WIB
Generasi muda sekarang ini lebih gampang memanfaatkan kartu kredit untuk berbelanja, tapi lebih lama melunasi utangnya.
KOMPAS.com -
Generasi muda saat ini ternyata belum cukup memiliki tanggung jawab
dengan pengelolaan keuangannya. Dalam menggunakan kartu kredit,
misalnya, mereka bukan hanya berbelanja lebih banyak dengan memanfaatkan
kartu kredit, tetapi juga cenderung lebih lama dalam melunasi
tagihannya. Demikian penelitian terbaru dari Ohio State University,
Amerika.
Seperti Anda ketahui, bank penerbit kartu kredit umumnya menerapkan minimum payment
untuk pembayaran tagihan kartu kredit. Nasabah memiliki perilaku yang
berbeda-beda dalam mengelola utangnya. Ada yang selalu membayar lunas
semua tagihan, ada yang membayar di atas minimum payment dengan
nilai yang bervariasi, ada pula yang hanya membayar sesuai pembayaran
minimum ini. Yang lebih parah tentunya nasabah yang membayar di bawah minimum payment.
Kebiasaan membayar dari minimum payment
bisa menciptakan situasi suram. Anak muda yang selalu meninggalkan
tagihan pada kartu kreditnya akan terus terbelit utang kartu kredit
hingga mati, demikian menurut Lucia Dunn, profesor bidang ekonomi di
Ohio State. Jika perilaku semacam itu terus dipertahankan, Dunn
mengatakan bahwa Amerika pada akhirnya akan dihadapkan pada krisis
keuangan di kalangan lansia yang tak mampu melunasi kartu kreditnya.
"Mereka
membayar utangnya lebih lama daripada generasi sebelumnya," papar
Profesor Dunn, yang menyusun studi ini bersama Sarah Jiang, Manager of
Credit and Business Strategy di Capital One Financial di McLean,
Virginia.
Dunn menyimpulkan penelitian ini berdasarkan dua survei
jangka panjang dari Ohio State, di mana yang satu tidak hanya merupakan
data pinjaman tetapi juga merupakan data kunci yang sebelumnya tidak
tersedia untuk kebanyakan peneliti lain. Data tersebut memungkinkan
peneliti untuk mengestimasi lebih tepat kapan orang Amerika mampu
melunasi utang kartu kreditnya.
Data ini lalu dikombinasikan
untuk mendapatkan informasi selama 13 tahun, dari 1997 hingga 2009.
Sampel yang diuji melibatkan 32.542 orang berusia 18-85 tahun. Dari situ
didapat hasil: mereka yang lahir antara 1980 - 1984 memiliki utang
kartu kredit yang secara substansial lebih tinggi daripada utang yang
dimiliki dua generasi sebelumnya. Rata-rata, mereka memiliki utang
sekitar 5.000 dollar lebih banyak daripada orangtua mereka (pada tahap
kehidupan yang sama), dan sekitar 8.000 dollar lebih besar daripada
nenek-kakek mereka.
Ada beberapa alasan mengapa generasi muda
memiliki utang kartu kredit yang lebih besar. Saat ini, kita memang
lebih mudah berutang, dan perilaku terhadap utang itu sendiri juga telah
berubah. "Saat ini berutang jauh lebih dapat diterima secara sosial,
dan akhirnya mengalami kebangkrutan," ujar Dunn.
Permasalahan
lainnya, generasi muda sekarang ini juga membayar utangnya lebih lama.
Dari perkiraan studi, terlihat bahwa tingkat pelunasan utang nasabah
muda 24 persen lebih rendah daripada orangtua mereka, dan sekitar 77
persen lebih rendah daripada kakek-nenek mereka. Kesulitan membayar
utang kartu kredit lebih parah karena generasi sekarang juga cenderung
memiliki utang pinjaman pendidikan yang lebih tinggi.
Meskipun
begitu, situasi seperti ini bukannya tanpa harapan. Studi ini
menunjukkan, jika pembayaran minimum tiap bulan ditingkatkan nasabah tak
hanya akan memenuhi jumlah minimum yang harus dilunasi, tetapi secara
substansial juga mampu melunasi lebih banyak. Hasilnya, pengurangan
utang setiap tahunnya akan lebih cepat.