Rabu, 23 Januari 2013

AKU DAN KISAHKU

Bandung 2012
Dengan kakak DR. Sukardi Rinakit

Foto SDN Nambangan Lor VI

Foto SMPN 2 Madiun
Foto SMAN 2 Madiun

Lukisan SMP


Bandung 2012

Lukisanku SMA

Ancol Tahun ...

Ujung Pandang-Perjalanan Jurnalistik(Benteng Ford Roterdam)

SMA Tari Jaipong

Pacaran

Penghargaan PEKSIMINAS/Pekan Seni Mahasiswa Tingkat Nasional-Juara Harapan 2

Pacaran di Ancol

Pacaran di Ancol

Minggu, 20 Januari 2013

BAGI PENGGUNA kartu kredit harus pandai mengatur keuangan, Jangan mentang-mentang boleh ngutang bayarnya minimum BERBAHAYA!

Dewasa Muda Melunasi Kartu Kredit Lebih Lama
Penulis : Felicitas Harmandini | Minggu, 20 Januari 2013 | 13:39 WIB
Generasi muda sekarang ini lebih gampang memanfaatkan kartu kredit untuk berbelanja, tapi lebih lama melunasi utangnya.

KOMPAS.com - Generasi muda saat ini ternyata belum cukup memiliki tanggung jawab dengan pengelolaan keuangannya. Dalam menggunakan kartu kredit, misalnya, mereka bukan hanya berbelanja lebih banyak dengan memanfaatkan kartu kredit, tetapi juga cenderung lebih lama dalam melunasi tagihannya. Demikian penelitian terbaru dari Ohio State University, Amerika.
Seperti Anda ketahui, bank penerbit kartu kredit umumnya menerapkan minimum payment untuk pembayaran tagihan kartu kredit. Nasabah memiliki perilaku yang berbeda-beda dalam mengelola utangnya. Ada yang selalu membayar lunas semua tagihan, ada yang membayar di atas minimum payment dengan nilai yang bervariasi, ada pula yang hanya membayar sesuai pembayaran minimum ini. Yang lebih parah tentunya nasabah yang membayar di bawah minimum payment.
Kebiasaan membayar dari minimum payment bisa menciptakan situasi suram. Anak muda yang selalu meninggalkan tagihan pada kartu kreditnya akan terus terbelit utang kartu kredit hingga mati, demikian menurut Lucia Dunn, profesor bidang ekonomi di Ohio State. Jika perilaku semacam itu terus dipertahankan, Dunn mengatakan bahwa Amerika pada akhirnya akan dihadapkan pada krisis keuangan di kalangan lansia yang tak mampu melunasi kartu kreditnya.
"Mereka membayar utangnya lebih lama daripada generasi sebelumnya," papar Profesor Dunn, yang menyusun studi ini bersama Sarah Jiang, Manager of Credit and Business Strategy di Capital One Financial di McLean, Virginia.

Dunn menyimpulkan penelitian ini berdasarkan dua survei jangka panjang dari Ohio State, di mana yang satu tidak hanya merupakan data pinjaman tetapi juga merupakan data kunci yang sebelumnya tidak tersedia untuk kebanyakan peneliti lain. Data tersebut memungkinkan peneliti untuk mengestimasi lebih tepat kapan orang Amerika mampu melunasi utang kartu kreditnya.

Data ini lalu dikombinasikan untuk mendapatkan informasi selama 13 tahun, dari 1997 hingga 2009. Sampel yang diuji melibatkan 32.542 orang berusia 18-85 tahun. Dari situ didapat hasil: mereka yang lahir antara 1980 - 1984 memiliki utang kartu kredit yang secara substansial lebih tinggi daripada utang yang dimiliki dua generasi sebelumnya. Rata-rata, mereka memiliki utang sekitar 5.000 dollar lebih banyak daripada orangtua mereka (pada tahap kehidupan yang sama), dan sekitar 8.000 dollar lebih besar daripada nenek-kakek mereka.

Ada beberapa alasan mengapa generasi muda memiliki utang kartu kredit yang lebih besar. Saat ini, kita memang lebih mudah berutang, dan perilaku terhadap utang itu sendiri juga telah berubah. "Saat ini berutang jauh lebih dapat diterima secara sosial, dan akhirnya mengalami kebangkrutan," ujar Dunn.

Permasalahan lainnya, generasi muda sekarang ini juga membayar utangnya lebih lama. Dari perkiraan studi, terlihat bahwa tingkat pelunasan utang nasabah muda 24 persen lebih rendah daripada orangtua mereka, dan sekitar 77 persen lebih rendah daripada kakek-nenek mereka. Kesulitan membayar utang kartu kredit lebih parah karena generasi sekarang juga cenderung memiliki utang pinjaman pendidikan yang lebih tinggi.

Meskipun begitu, situasi seperti ini bukannya tanpa harapan. Studi ini menunjukkan, jika pembayaran minimum tiap bulan ditingkatkan nasabah tak hanya akan memenuhi jumlah minimum yang harus dilunasi, tetapi secara substansial juga mampu melunasi lebih banyak. Hasilnya, pengurangan utang setiap tahunnya akan lebih cepat.

Selasa, 15 Januari 2013

Setting Speaker dan Daya Power Amplifier

Berapa besar daya yang dibutuhkan speaker dalam sistem audio mobil? Ini merupakan pertanyaan yang selalu menjadi pokok utama dalam pemilihan speaker audio mobil. Pada dasarnya setiap speaker memiliki spesifikasi mengenai berapa besar daya yang dibutuhkan, ini merupakan panduan kita dalam menentukan seberapa besar daya power amplifier yang dibutuhkan untuk menggerakkan speaker.
Pada power amplifier pasti terdapat dua jenis spesifikasi daya yaitu daya output Continuous, dan puncak atau maksimum. Output daya Continuous ditentukan dengan menggunakan nada tes konstan sedangkan daya output maksimum merupakan gambaran seberapa besar power amplifier menghasilkan daya pada saat irama musik meningkat. Ini merupakan gambaran dasar dari musik yag cenderung memiliki tempo yang cepat atau lambat.
Jika sebuah speaker memerlukan daya 100 watt maksimum, maka akan dibutuhkan power amplifier dengan daya 100 watt per channel untuk memenuhi kebutuhan daya yang aman untuk speaker tersebut (lebih besar lebih baik untuk mengurangi tingkat distorsi). Tetapi jika hanya terdapat nilai Continuous power dari speaker maka untuk mengetahui seberapa besar daya power amplifier yang dibutuhkan kita dapat menggunakan rumusan 3/4 yaitu membagi Continuous handling power speker dengan 0,75 untuk mendapatkan jumlah daya power amplifier yang dibutuhkan speaker tersebut, contoh : jika speaker memiliki Continuous power handling 75 watt maka power yang dibutuhkan adalah = 75 watt : 0,75 = 93,33 bulatkan menjadi 100 watt.


Pada kebanyakan speaker audio mobil dengan menggunakan daya power amplifier antara 50 hingga 75 watt per channel sudah cukup memadai untuk menggerakkan speaker. Dan dibutuhkan dua hingga tiga kali lebih besar untuk mensuplai daya ke subwoofer. Sedangkan untuk tweeter dibutuhkan daya kurang lebih antara 20 hingga 40 watt ( hal ini harus memperhatikan spesifikasi dasar dari speaker akan kebutuhan daya).
Harus menjadi perhatian jika speaker dipaksa bekerja dengan daya power amplifier yang lebih kecil dari kebutuhannya akan berpotensi untk merusak speaker, dikarenaka akan terjadi clipping signal yang merusak komponen mekanik dari speaker tersebut. Tetapi kemungkinan speaker menjadi rusak karena anda menggunakan power amplifier dengan daya yang lebih besar sangatlah kecil jika dibandingkan anda menggunakan power yang memiliki daya yang lebih rendah dari spesifikasi speaker, karna semakin besar daya dari sebuah power amplifier maka tingkat terjadi distorsi pada speaker akan semakin kecil yang pada akhirnya dan power tersebut memberikan supply daya yang maksimal ke setiap speaker yang terhubung dengan power amplifier tersebut.





Pilihlah power amplifier audio mobil yang sesuai dengan kemampuan speaker anda, banyak terjadi kesalahan fatal dalam perpaduan antara kemampuan dari power amplifier dan speaker yang tidak berimbang sehingga mengakibatkan sistem audio mobil tidak maksimal.

DUNIA INDAH KELUARGAKU



Add caption